Glossary Kopi

Istilah-istilah kopi yang sering muncul, dijelasin pakai bahasa awam.

A

  • Acidity

    Bukan 'masam kecut' — tapi keceriaan rasa.

    Kayak gigit jeruk segar atau apel hijau — bright sensation.

    Kopi light roast tinggi acidity, indikator quality di specialty world. Beda dengan acidity perut (heartburn) yang lebih dipengaruhi roast level.

  • AeroPress

    Alat seduh pressure-assisted (tekan manual).

    Fleksibel — bisa upright atau inverted, bisa untuk filter atau espresso-style. Portable, forgiving, cocok travel + pemula.

  • Aftertaste / Finish

    Rasa yang tinggal setelah ditelan.

    Bisa coklat, buah, floral, atau flat (no aftertaste = under-extracted biasanya). Long pleasant finish = quality marker.

  • Agitation

    Aduk/swirl/stir kopi saat seduh.

    Bisa tingkatkan ekstraksi karena kopi kontak air lebih agresif. Tapi berlebihan = pahit. Pemula: stir gentle 1× saat bloom cukup.

  • Agtron

    Alat ukur roast level secara objective (scanner warna).

    Skala 0-100, lebih rendah = lebih gelap. Populer: #85 Light, #75 Medium-Light, #65 Medium, #55 Medium-Dark, #45 Dark. SCA standard reference.

  • Altitude (MASL)

    Ketinggian kebun kopi dari laut — meters above sea level.

    1200+ masl = high-grown Arabica quality. 800-1200 = medium. <800 = typical Robusta. Tinggi altitude = pematangan lambat, density biji tinggi, acidity bright.

  • Anaerobic

    Fermentasi biji dalam tangki tertutup (tanpa oksigen).

    Biji + pulp di-seal, fermentasi 24-120 jam. Hasil: funky, fruity, wine-like, exotic. Profile divisive — sebagian suka, sebagian terlalu 'natural'.

B

  • Balance

    Keseimbangan flavor, acidity, body, sweetness.

    Score SCA: kopi balance = tidak ada satu aspek dominan berlebihan. Bukan berarti 'average' — justru great coffee semua aspek tinggi + in harmony.

  • Bed

    Lapisan bubuk kopi di dalam dripper.

    Setelah seduh selesai, lihat bed-nya. Kalau datar = ekstraksi merata (good). Kalau miring atau ada lubang = channeling (fix: stir atau swirl gentle).

  • Bloom

    Basahi kopi 30-45 detik sebelum seduh penuh.

    Kayak rendam beras sebelum nasi liwet — bukaain pori-pori.

    Tuang air 2× berat kopi (e.g., 30g air untuk 15g kopi), tunggu 30-45 detik. Tujuannya keluarkan CO2 biar ekstraksi nanti merata.

  • Bloom Water

    Air pertama yang dituang saat bloom.

    Biasanya 2-3× berat kopi (e.g., 15g kopi → 30-45g bloom water). Pastikan semua bubuk basah merata.

  • Blooming Time

    Durasi bloom sebelum pour utama.

    Umumnya 30-45 detik. Kopi fresh (<2 minggu dari roast) gas lebih banyak, butuh 45 detik. Kopi old gas dikit, 30 detik cukup.

  • Body

    Perasaan kopi di mulut (mouthfeel).

    Light body = kayak teh. Heavy body = kayak susu rendah lemak.

    French Press body heavy (banyak oil + fines). V60 light (paper filter saring oil). Espresso body tebal karena pressure extract oil.

  • Burr Grinder

    Grinder dengan 2 permukaan bergigi yang giling kopi seragam.

    Lawan 'blade' yang cuma mencacah tidak rata — kayak food processor.

    Wajib untuk specialty coffee. Pilihan: conical (kerucut) atau flat (datar). Lihat halaman penggiling untuk rekomendasi.

C

  • Channeling

    Air nemukan jalur pintas di bed kopi, ekstraksi tidak merata.

    Hasilnya: over-extract di jalur (pahit), under-extract sisanya (asam). Fix: stir atau swirl gentle setelah pour, atau cek grind apakah ada fines berlebih.

  • Channeling (Espresso)

    Air cari jalur pintas di puck espresso.

    Visual: crema blonde/putih di satu titik, ada 'jet' di naked portafilter. Fix: distribusi lebih baik, tamp level, cek grind konsistensi.

  • Clean Cup

    Tidak ada off-flavor atau taint.

    Deduction kalau ada cedar, moldy, ferment negatif, earthy negatif. Clean cup 10/10 = specialty tier. Defect primary kurangi banyak, secondary kurangi sedikit.

  • Conical vs Flat Burr

    2 jenis burr: kerucut atau datar.

    Conical: bentuk kerucut, lebih lama tapi flavor rich, body tebal. Flat: datar, seragam, clarity tinggi, lebih bright. Conical lebih forgiving untuk pemula.

  • Crema

    Lapisan busa di atas espresso, dari gas + oil.

    Warna golden brown ideal. Crema tebal tidak selalu = quality (robusta crema sering tebal tapi flavor pahit). Crema tipis tapi long = arabica light roast bagus.

  • Cupping

    Ritual tasting kopi profesional.

    Kopi digrind kasar, masukkan cup, tuang air panas, cium aroma 4 menit, break crust, sruput pakai sendok. Standar SCA untuk evaluate batch baru.

D

  • Defect

    Cacat biji / cacat rasa saat cupping.

    Primary: full black, sour, fungus, pod — 1 cukup untuk downgrade. Secondary: partial black, broken, insect-damaged — butuh lebih banyak. Quality grading biji hijau.

  • Development Time Ratio (DTR)

    Rasio waktu post-FC terhadap total roast.

    DTR = (total - FC time) / total. Umum 18-25%. DTR tinggi = flavor terkembang dalam tapi acidity turun. DTR rendah = bright tapi ada risk grassy/hijau.

  • Dose

    Jumlah gram kopi kering yang dipakai.

    Espresso double: 18-20g. V60 single cup: 15g. Timbang pakai scale 0.1g. Dose tetap = variable terkontrol pertama saat dial-in.

E

  • EK43

    Grinder Mahlkönig ikonik, flat burr 98mm.

    Industry standard buat filter + espresso di banyak world-class cafe. Clarity tinggi, particle size seragam. Harga 40-50 juta. Alternatif: DF64, Timemore Sculptor.

  • Espresso

    Kopi pekat dari mesin tekanan tinggi (9 bar), 25-30 detik.

    Standard: 7-9g kopi → ~30g cair. Crema di atas. Basis untuk latte, cappuccino, americano, dll. Butuh mesin espresso + grinder espresso.

  • Extraction

    Proses air mengekstrak rasa dari kopi bubuk.

    Under-extracted = hambar/asam tipis (kopi belum keluar semua flavor). Over-extracted = pahit/astringent (terlalu banyak senyawa pahit larut).

  • EY / Extraction Yield

    Persentase isi kopi yang terlarut dalam air.

    Target 18-22%. Di bawah 18% = hambar/asam (under-extracted). Di atas 22% = pahit/astringent (over-extracted). Diukur via TDS + ratio.

F

  • First Crack

    Bunyi 'pop' pertama saat sangrai, biji mulai ekspansi.

    Suhu ±196-205°C. Biji melepas uap + CO2, jadi doble size. Lewat First Crack = masuk teritori 'drinkable'. Light roast: develop 1-2 menit setelah FC.

  • Flavor (SCA)

    Rasa keseluruhan saat seruput.

    Beda dari aroma — flavor = aroma + taste + mouthfeel. Deskriptor detail dari Flavor Wheel (blueberry, bergamot, tobacco, dll). Score weight tinggi di SCA.

  • Flavor Wheel

    Diagram rasa kopi dari SCA.

    Dari 9 kategori besar (fruity, floral, sweet, nutty, dll) ke 100+ deskriptor spesifik. Bantu kamu artikulasi rasa kopi yang kamu cicipi.

  • Flush

    Semprot air keluar dari group head sebelum shot.

    1-2 detik pas sebelum brew: bersihkan grounds dari shot sebelum + stabilkan temperatur. Mesin HX wajib (temperature surfing). Dual-boiler opsional.

  • Fragrance / Aroma

    Bau kopi kering (fragrance) vs basah (aroma).

    SCA cupping: fragrance = grind, aroma = setelah tuang air. Deskriptor: floral, fruity, nutty, chocolatey, spicy. Tingkat 0-10 skala SCA.

G

  • Gayo

    Region kopi Aceh, signature Indonesia.

    Aceh Tengah (Takengon, Bener Meriah). Altitude 1200-1700 masl. Karakter: earthy, herbal, heavy body, low-medium acidity. Wet-hulled dominant.

  • Giling Basah / Wet Hulled

    Proses khas Indonesia, daging buah dikupas saat masih basah.

    Hasil: kopi earthy, bold, heavy body. Mandheling, Gayo, Toraja banyak pakai metode ini. Indonesia signature.

  • Group Head

    Bagian mesin espresso tempat portafilter nempel.

    Air panas + tekanan keluar dari shower screen di group head. Standar industri: E61 (commercial), saturated (top-tier), thermoblock (entry).

  • Gula Aren

    Gula palma Indonesia — alternatif refined sugar.

    Rasa caramel + smokey. Cocok untuk latte, vietnam drip, kopi susu. Glycemic index lebih rendah dari gula pasir. Signature 'Kopi Susu Gula Aren' gen Z Indonesia.

K

  • Kintamani

    Region kopi Bali, Arabica.

    Lereng Gunung Batur, 1000-1500 masl. Washed dominan — profil bersih, citrus + floral. Lighter body dari Sumatera. Ikonis tourism region.

  • Kopi Joss

    Kopi tubruk Jogja ditambah arang panas langsung.

    Arang bara dari anglo dicelupkan ke cangkir — suara 'joss' + berbuih. Netralkan asam, tambah smokiness. Legendaris di Tugu Jogja.

  • Kopi Sanger

    Espresso Aceh dengan susu kental manis + dikocok.

    Sanger = 'sama-sama ngerti' (slang Aceh). Racikan: kopi robusta pekat, SKM, kocok pakai dua gelas. Khas Banda Aceh, varian 'dingin' pakai es.

M

  • Maillard Reaction

    Reaksi amino + gula saat sangrai — bikin brown + savory.

    Fase 150-200°C sebelum FC. Develop flavor complex (nutty, bread, caramel hint). Fase ini kelamaan = baked. Tergolong karena panjang, tapi tidak bisa terlalu cepat juga.

  • Microfoam

    Susu yang di-steam jadi foam halus seperti cat.

    Tekstur kayak 'wet paint' — mengkilat, bukan busa sabun.

    Bubble sangat kecil, tidak terlihat mata. Jadi dasar latte art bagus. Teknik: stretch (suara 'tschhh') lalu texture (wirlpool).

  • Moka Pot

    Pot stovetop Italia yang hasilkan 'espresso-style' kopi pekat.

    Air panas tekanan rendah dari boiler bawah ke chamber atas via basket kopi. Bukan espresso real (pressure cuma 1-2 bar) tapi sangat strong & chocolatey.

N

  • Naked / Bottomless Portafilter

    Portafilter tanpa spout — bawahnya bolong.

    Tool diagnostik — bisa lihat channeling, volcano, atau flow tidak merata langsung. Basket langsung tampak. Wajib buat yang serius dial-in.

P

  • Peaberry (Lanang)

    Biji tunggal bulat, bukan flat-face sepasang.

    ~5% dari buah kopi. Dipilah manual. Rasa lebih concentrated + sweet. Toraja, Flores, Bali populer punya grade 'Lanang'. Premium pricing umum.

  • Pitcher / Milk Jug

    Kendi logam untuk steam + pour susu.

    Material stainless, bentuk spout penting untuk pour pattern. Ukuran populer: 350ml (single), 600ml (double). Tip tajam = control art lebih presisi.

  • Portafilter

    Gagang yang pegang basket berisi kopi bubuk.

    Tersedia single (7g), double (18g), naked/bottomless (lihat ekstraksi langsung). Material: umumnya brass chrome-plated, ada yang titanium.

  • Pour Over

    Metode seduh tuang manual dari atas, gravity-driven.

    Termasuk: V60, Kalita Wave, Chemex, Origami. Karakter: clean, bright, controllable. Lawan immersion (French Press, AeroPress upright).

  • Pre-infusion

    Tekanan air rendah dulu sebelum tekanan penuh (espresso).

    Biasanya 3-6 detik di 2-4 bar. Basahi puck, isi micro-void, biar saat 9 bar hit ekstraksi merata. Mesin lever & modern prosumer punya fitur ini.

  • Puck

    Kopi bubuk yang sudah dipadatkan di portafilter.

    Bentuknya kayak 'puck' hoki. Padat merata = ekstraksi rata. Retak atau miring = channeling bakal datang. Setelah shot, puck ideal lepas utuh saat di-knock.

R

  • Rasio (Coffee-to-Water)

    Perbandingan gram kopi : gram air.

    V60 umum 1:15 sampai 1:17 (1g kopi : 15-17g air). Espresso 1:2. Lebih kecil rasio = lebih pekat. Lebih besar = lebih encer.

  • Ristretto / Lungo

    Espresso short (1:1.5) vs long (1:3+).

    Ristretto: intens, manis, body tebal, low caffeine per ml. Lungo: encer, lebih pahit (over-extract di akhir), caffeine lebih banyak total.

  • Roast Date

    Tanggal sangrai. Kopi puncak rasa 7-21 hari setelah.

    <7 hari: gas masih banyak, bloom intens, flavor belum keluar. 7-21 hari: sweet spot. >1 bulan: mulai stale, flavor flat.

  • Roast Level

    Tingkat sangrai: Light / Medium / Dark.

    Light: asam, floral, fruity (sulit untuk pemula). Medium: balanced, paling versatile. Dark: pahit, strong, chocolatey, body tebal (cocok susu).

  • RoR (Rate of Rise)

    Kecepatan kenaikan suhu saat sangrai, °C per menit.

    Kurva RoR yang ideal: gradually declining, tidak flick + tidak crash. RoR crash setelah FC = baked coffee (flat). RoR terlalu tinggi = baked fast.

  • Rosetta

    Pola latte art daun dengan banyak 'rib'.

    Wiggle jug dari tinggi rendah, tarik mundur, lalu 'cut' garis tengah untuk bikin stem. 6-10 rib standard, 12+ advanced.

S

  • Second Crack

    Bunyi 'crack' kedua — minyak mulai keluar.

    Suhu ±224-230°C. Sel biji pecah, oil migrate ke permukaan. Masuk teritori dark roast (Vienna, French, Italian). Filter coffee tidak umum lewat 2C.

  • Single Origin vs Blend

    Single: 1 sumber. Blend: campur beberapa origin.

    Single origin = 1 kebun atau 1 daerah, profile khas. Blend = campur untuk balance — biasanya untuk espresso atau house blend yang konsisten.

  • Stretch Phase

    Fase awal steaming susu — masuk udara.

    Tip wand sedikit di permukaan susu, dengar suara 'tsch-tsch' 2-5 detik. Volume susu naik ±30%. Lewat waktu = bubble besar, terlambat = flat.

T

  • Tamping

    Menekan puck espresso dengan tamper.

    Kayak padat-adatin tanah di pot tanaman — harus rata permukaan.

    Tekanan standar ±15-20 kg atau level. Lebih penting konsistensi daripada tekanan spesifik. Tamper level = air masuk merata.

  • TDS

    Seberapa pekat kopi kamu.

    Ibarat teh: encer vs kental.

    Total Dissolved Solids — persentase isi terlarut dalam minuman. Target pour over 1.2-1.4%. Di bawah hambar, di atas berat/pahit.

  • Terroir

    Karakter rasa yang unik dari region geografis.

    Dipengaruhi altitude, tanah, iklim, varietal, processing. Mirip wine — Gayo punya 'terroir' berbeda dari Kintamani walaupun keduanya Arabica Indonesia.

  • Texture Phase

    Fase kedua steaming — integrasi bubble.

    Wand agak dalam, ciptakan whirlpool. Bubble besar pecah, susu jadi silky glossy. Stop saat jug hangat di pinggang (±60-65°C).

  • Toraja

    Region kopi Sulawesi Selatan.

    Tana Toraja, ketinggian 1100-1800 masl. Karakter: earthy, dark chocolate, low acidity, full body. Mirip Sumatra tapi lebih clean. Kalosi label terkenal.

  • Tubruk

    Cara seduh tradisional Indonesia paling sederhana.

    Kopi bubuk halus langsung di cangkir + air panas, tunggu ampas turun (3-4 menit). Earthy, bold, rustic. No equipment needed.

  • Tulip

    Pola latte art bunga berlapis.

    Seri 'heart' yang didorong maju — 3-5 layer. Teknik: stop-start pour. Lebih mudah dari rosetta, cocok pemula latihan.

U

  • Uniformity

    Konsistensi rasa antar 5 cup di satu cupping.

    SCA cupping 5 cup per sample. Kalau semua sama = uniformity 10/10. Satu cup beda (misal ada defect) = kurang 2 poin. Indikator batch quality.

  • Updose / Downdose

    Tambah / kurangi dose espresso.

    Updose (misal 18 → 19g) = pekat + pahit berkurang tapi flow lebih lambat. Downdose = sebaliknya. Tool dial-in kalau grind sudah optimal tapi masih off.

V

  • V60

    Dripper conical paper filter dari Hario, paling populer.

    Bentuk huruf V dengan sudut 60°. Clarity & clean cup, tapi sensitive ke teknik. Paling banyak resep untuk V60 di komunitas global.

  • Varietal

    Jenis tanaman kopi (kayak varietas mangga: harum manis vs gedong).

    Arabica populer dunia: Typica, Bourbon, Gesha, SL28. Indonesia: Ateng, Tim Tim, Lini S, Sigararutang, Kartika.

W

  • Washed / Natural / Honey

    Proses pasca-panen biji kopi.

    Washed: daging buah dicuci, hasilnya clean & bright. Natural: biji dikeringkan beserta daging, fruity & sweet. Honey: tengah-tengah, sticky body.

Y

  • Yield

    Jumlah gram cair yang keluar dari ekstraksi.

    Espresso ratio 1:2 artinya 18g dose → 36g yield. Timbang cangkir di atas scale. Yield kecil = short shot (intens), besar = lungo (encer).